Saya termasuk sebagian kecil orang yang beruntung tidak pernah menemui pertanyaan “kapan nikah?” Tapi kalau dipikir-pikir agak sebel juga sih. Sementara jutaan manusia singgel di negeri ini ditanya demikian. Saya sekali pun enggak pernah.

😡

Sayangnya keberuntungan saya habis di awal aja, saya enggak selamat dari sekuel pertanyaan “Kapan anu? Udah anu?”. Padahal saya orang yang jarang bersosialisasi. Misalnya dulu sebelum saya dan istri dikaruniai anak. Hampir selama 3 tahun, ada aja yang nanya “udah isi?”. Dafuk man. Bukannya itu kepo urusan ranjang orang? Dari bunyinya sama kayak nanya “istri udah di-cream-pie?”!!

Setelah punya anak juga masih ada pertanyaan serupa yaitu “anaknya udah bisa jalan?”, “udah bisa ngomong?”, “udah ini? udah itu?”, “udah mau minta adek tuh?!”. Damn lama-lama bukan pertanyaan lagi. Nyuruh.

Luar biasa yah? Padahal satu adab dalam bersahabat ialah “jangan tanya sampai teman kita kasih tau duluan”. Misal teman kita ngomong “…bro dah 3 tahun nih istri gw belum hamil..” nah di situ baru kita boleh kasih saran.

...

Setelah demikian banyak stage saya lalui (bahkan lompati) saya kira enggak akan ada lagi pertanyaan semisal tadi. Nikah udah. Anak udah. Adeknya udah. Jadi sepasang pula. Kuliah (bodo [email protected]). Rumah udah. Daftar haji aja udah. Yang terakhir ini anehnya gak ada yang nanya. Kan Etan. Gak ada tuh yang ngomong “..bro bulan depan bonus nih, daftar haji yuk..”

Oke saya ulangi, setelah cukup banyak stage dilalui ternyata masih ada pertanyaan lanjutan. Udah beli mobil? Udah renov rumah?

🙄

Gila gila gila.

Kedua pertanyaan terakhir ini sebenarnya cukup menarik. Kalau saya perhatikan generasi di atas saya dan kebanyakan kamu, senior para milenial, memang sekarang sedang sejahtera-sejahteranya. Tapi buat kita para milenial (kelahiran 1980-1995) jangan coba-coba mengikuti gaya hidup mereka. Kita hidup di zaman yang jauh berbeda. Malah bisa dibilang “zaman yang mereka rusak”. Iya, generasi sebelum kita.

Beberapa tantangan yang dihadapi milenial yaitu :

  • Mahalnya biaya pendidikan

Biaya saya kuliah semua dari gaji pribadi. Nominal amat berharga yang disisihkan dari keringat dan waktu. Harga ilmu memang tidak bisa diukur. Tapi menjadikan sumur suci tempat menimba ilmu jadi bisnis semata ya kurang ajar namanya. Sederhananya “bengap juga uy bayarnya”.

  • Sulit mendapatkan pekerjaan layak

Selesai menukar keringat dan darah (kita sendiri dan bahkan orang tua) dengan ijazah. Perjuangan selanjutnya adalah menjajakkannya di dunia kerja. Saya sendiri masih inget dulu berkelana di kawasan industri. Dari perusahaan sampai ke yayasan (outsourcing) menjual ijazah dan sertifikat cuma buat dapet pekerjaan yang pasti saya benci. Gajinya.

  • Mustahil membeli rumah (tanpa hutang puluhan tahun)

Di Ameriki sana diperkirakan generasi terakhir yang sanggup membeli rumah adalah para boomers. Orang tua para milenial. Kita di Indonesia sepertinya masih sedikit beruntung. Oknum developer serakah belum jadi endemi. Walau memang sebaiknya mereka mati aja semua. Rumah murah belum punah. Walau kadang masih kudu berhutang bertahun-tahun.

  • Kurang tepatnya cara orang tua mendidik di rumah

Hahh.. Saya enggak mau bahas ini. Kamu tonton aja video di bawah Takut durhaka.

Terus solasinya gimana?

Ya kalau saya tau saya udah menang pilkada baru-baru ini.

Saya satu generasi dengan kamu. Juga menjalani fenomena yang sedang berlangsung ini. Live sampai detik ini.

Luka terlanjur menganga. Sepertinya kita cuma bisa menjaga supaya tidak infeksi. Hidup sederhana tanpa gengsi. Toh enggak semua manusia harus sarjana. PNS bukan satu-satunya solusi. Rumah juga cari aja di pinggir kota atau di desa sekalian. Enggak mesti gedongan. Enggak perlu dalam perumahan. Atau enggak usah beli sekalian. Pepatah modern bilang “sewa yang kamu tinggali, beli yang bisa disewakan”.

Kendaraan? Motor aja lah. Anak udah 2? Ada taksi online. Bisa gonta-ganti mobil. Disupiri pula.

Dan jangan coba-coba mengorek-ngorek luka yang sudah ada dengan hidup hedon. Jalan-jalan. Makan-makan. Semua ditonton. Bayar pula. Buang waktu. Buang uang. Kalau waktu = uang → (buang uang)^2^. Efeknya eksponensial. Dan ternyata itu semua kebiasaan orang miskin.

Kemudian yang paling parah. Jangan sekali-kali menambah luka. Yaitu melakukan semua tadi dengan uang hasil hutang. Hutang mah kalau menyoal hidup mati aja. Atau kebutuhan primer lah. Hutang cuma mencuri kekayaan di masa depan. Hasil curiannya dibagi dua pula dengan bank. Kalau benar kita punya kekayaan itu di masa depan. Kalau enggak kan repot. Daripada susah payah menambah luka kenapa enggak gantung leher langsung aja.

Bersambung.. Eh.. Tamat aja deh.. Jangan banyak tanya. Assalamualaikum!

😘

Referensi

https://t.me/halamanbelakang

https://www.careerplanner.com/Career-Articles/Millennials-The-Mystery-Generation.cfm